Senin, 05 Desember 2011

interesting experience at Panderman |2

Minggu, 4 Desember 2011

Kita ber-8 (aku, bias, nano, sinyo, firda, cukir, andre, aris) menuju ke Panderman.
Tapi karena, aku masih ada kuliah. Akhirnya firda, cukir, andre, aris naik duluan ke latar ombo.
Aku, nano, bias, sinyo nyusul . Ternyata di atas ada yg kena musibah. Soalnya, pas kita mau nitip motor, ada ambulans lewat. Ternyata di atas ada yang kena sengatan tawon tanah. 2 orang korban.
Karena, kita takut nanti ada korban lagi. Akhirnya kita ber-4 memutuskan untuk lewat jalan lain yang lebih aman. Walaupun lama untuk sampai ke latar ombo.
*
Ternyata, perjalanan kita ke latar ombo semakin lama karena, kita tersesat. Bias sebagai ketua saat itu, soalnya  kita ber-3 masih awam dan baru pertama kalinya ikut muncak. Untung masih ada sinyal. Cukir dkk nelpon bias, mereka udah sampek duluan di latar ombo, khawatir soalnya kita lama banget sampeknya. Padahal kalo lewat jalur biasa 1 jam aja sudah sampek. Akhirnya, bias jelasin kalo tadi kita ngambil rute lain.
*
Bias teriak "KIIIIRRRRR", ternyata cukir dkk denger suara teriakan bias. Cukir dkk teriak juga "GAMAAALAAAAMAAA" (itu nama jalan kontrakan mereka di tidar). Kita juga denger, tapi sumber suara masih jauh banget. Akhirnya bias cari jalan menuju sumber suara sambil teriak-teriak manggil cukir dkk sembari diikuti jawaban dari mereka.
*
"Kita terlalu jauh rek, latar ombo sebelum jalan ini," kata bias. Aku, nano, sinyo cuma bisa bantu teriak-teriak. Kita gak ngerti apa-apa. Kata bias kita kelewatan, tapi latar ombo masih di atas kita. Jadi kita balik, terus naik dan buat jalan sendiri. Karena gak ada jalan setapak lagi. Dan waktu itu kabut sudah tebal, bias gak bisa lihat puncaknya di mana. Memperparah perjalanan kita.
*
Akhirnya kita nemu jalan terjal berbatu dan jalan dengan track mudah. Kita teriak lagi dan ada jawaban. Kita pilih jalan terjal berbatu. Sumpah, jalannya berbahaya, nanjak, dan berbatu, banyak pohon tumbang. Kita terus teriak supaya bisa mantau, kita sudah dekat dari latar ombo atau gak. Dan anehnya, suara mereka kadang kecil kadang deket banget tapi, kita yakin lewat jalan itu. Soalnya udah gak ada jalan lagi. Kita terusin perjalanan. Tanpa minum sampek di latar ombo.
*
Yee, kita sampek di latar ombo. Istirahat sebentar, curhat sekalian foto-foto. Kita lanjutkan perjalanan kita menuju puncak pandermen. Kata aris, andre tinggal 10m. Tapi mana, kok gak nyampek-nyampek. Akhirnya kita (aku & nano) sadar kalo mereka botekin kita. Emang kita anak kecil, di iming-imingi di atas ada KFC, matos lah, PH. Wes gak percoyo. Andre tetep menyerukan 10m lagi!
*
Ternyata, jalan menuju puncak gak segampang yang aku bayangkan. Jalan menanjak dan berbatu ditambah bekas pohon tumbang dan semak belukar yang tinggi dan lebat. Selain itu, untuk menuju puncak, ada jalan yang sempit banget dan di bawahnya itu jurang. Sekali kita lengah nyawa melayang. Tapi, subhanallah maha suci Allah, view dari atas bagus banget. Gak bisa digambarkan. Hanya bisa berdecak kagum, berhenti sejenak, memuji kebesaran Allah dan melanjutkan perjalanan. Kita terus pegangan tangan dari depan sampai belakang, dan terus menjarkom jika ada rintangan seperti pohon tumbang atau ranting yang bisa saja jika tidak berhati-hati bisa saja mata kita tertusuk. Sampai di puncak Pandermen pukul 18.30.
*
Kerena niat kita ke Pandermen gak untuk ngecamp, jadi kita bawa persediaan seadanya seperti, senter, kompor, korek, mie instan, beberapa bungkus nasi, sawi putih, energen dan 5 botol air mineral saja.
Di atas kita bisa lihat pemandangan yang subhanallah luar biasa, lampu kota malang yang berjajar, gunung semeru yang terlihat kawahnya, serta kabut awan yang terbentuk seperti tanda hati waktu itu. Gak hanya itu kita juga menikmati dinginnya malam, membuat tangan kram dan jari-jari tidak bisa digerakkan.
*
Sebenarnya belum puas rasanya, hanya menikmati beberapa jam di atas puncak. Tapi waktu memburu kami. Kami harus turun jika tidak mau mati kedinginan di atas sana. Akhirnya kita turun dan melewati jalan yang tadi kita lalui. Aku kira jika turun semakin mudah. Ternyata sebaliknya, kita lebih sering terjatuh, terpeleset jika tidak berhati-hati. Akhirnya kita jalan jongkok dan kadang-kadang memprosotkan tubuh kita. Karena jalan terlalu licin, terjal, dan berbatu. Banyak sudah korban, terutama kita kaum hawa (aku, nano, firda). Kita terlalu sering terjatuh. Selain itu penerangan, hanya menggunakan senter hp.

With Bias, Nano, and Sinyo
14.00 : Mulai menuju Latar Ombo
15:15 : Sampai di Latar Ombo
With Bias, Sinyo, Cukir, Aris, Andre, Nano, Firda
16.30: Mulai menuju puncak
18.30: Sampai puncak




Tidak ada komentar:

Posting Komentar