Rabu, 28 Desember 2011

Artikel Tugas Akhir Bahasa Indonesia


REVITALISASI PENGGUNAAN BAHASA JAWA PADA GENERASI MUDA

TUGAS AKHIR SEMESTER

Sebagai syarat ujian akhir mata kuliah Bahasa Indonesia
yang dibina oleh Bapak Sony Sukmawan, MPd.


Oleh:
NINA DAYU LUTFIYANTI
115020305111007






JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011
________________________________________________________________________
REVITALISASI PENGGUNAAN BAHASA JAWA PADA GENERASI MUDA

Nina Dayu Lutfiyanti

ABSTRAK

Bahasa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan memberikan ciri tertentu yang merupakan rekaman perilaku manusia serta mencerminkan karakter suatu kelompok yang membedakannya dari kelompok lain. Begitu pula dengan bahasa Jawa sebagai bahasa daerah. Globalisasi dapat memancing timbulnya pergeseran bahasa. Oleh sebab itu, merevitalisasi penggunaan bahasa Jawa pada generasi muda dapat dijadikan landasan untuk menampik pegeseran bahasa guna mempertahankan budaya.
Kata Kunci: Bahasa Jawa, minat generasi muda terhadap bahasa Jawa, revitalisasi bahasa Jawa, membangun karakter
PENDAHULUAN
Seperti yang kita ketahui di era globalisasi yang semakin maju ini, bahasa Jawa sebagai bahasa ibu bagi masyarakat Jawa mengalami degradasi fungsional. Itu dapat terlihat dari minimnya penggunaan bahasa Jawa di kalangan remaja dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini dibiarkan maka bahasa Jawa akan punah.
Secara tidak langsung, bahasa Jawa mengajarkan kepada generasi muda untuk bersopan santun kepada orang tua dan yang lebih tinggi derajatnya. Hal ini ditunjukkan oleh adanya basa krama alus atau basa krama inggil saat kita berbicara dengan beliau-beliau yang kita segani. Oleh sebab itu, sangatlah tidak terpuji jika para generasi muda menyingkirkan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Sekedar harapan apabila melihat pada fakta yang terjadi di kalangan generasi muda saat ini bahwa mereka mulai enggan untuk menggunakan bahasa Jawa dengan baik.
Padahal banyak orang asing terutama dari Eropa yang tertarik untuk mempelajari bahasa Jawa. Orang asing itu mempelajarinya kemudian menuliskannya untuk dijadikan literatur ilmu pengetahuan di negara mereka. Sedangkan di Indonesia, jangankan menulis, membaca saja malas. Padahal tulisan adalah media efektif untuk transformasi di bidang keilmuan.
Tentunya tulisan berhubungan dengan bahasa yang digunakan. Untuk itu, bahasa Jawa harus bisa mentransformasi keilmuan agar tidak ditinggalkan oleh penggunanya.

MINAT GENERASI MUDA TERHADAP BAHASA JAWA
Keengganan generasi muda untuk mendalami bahasa Jawa dikarenakan bahasa Jawa memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi pada saat dipelajari maupun pada saat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Jawa dikenal tata cara penggunaan bahasa atau yang dalam bahasa Jawa itu sendiri disebut dengan unggah-ungguh basa atau undhak-usuking basa. Unggah-ungguh basa digunakan seturut dengan: a) siapa yang berbicara (orang pertama), b) siapa yang diajak berbicara (orang kedua),  dan c) siapa yang dibicarakan (orang ketiga). Menurut jenisnya, bahasa Jawa dibagi menjadi 7, yaitu: a) basa kasar, b) basa ngoko lugu, c) basa ngoko andhap, d) basa krama lugu, e) basa madya, f) basa krama inggil, dan g) basa kedaton. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pengunaan jenis-jenis bahasa Jawa:
a)      Basa kasar
Digunakan oleh masyarakat kota dan terutama diucapkan saat diri dalam keadaan tidak stabil (marah), lalu kata-kata yang diucapkan sedikit tidak enak didengar. Dalam bahasa Jawa disebut muring-muring atau misuh.
b)      Basa ngoko lugu
Digunakan dalam percakapan sehari-hari, antara orang yang hubungannya dekat, seperti antarteman atau antarsaudara dalam suasana tidak resmi.
c)      Basa ngoko andhap
Digunakan oleh orang yang lebih muda kepada orang lain yang dituakan dan disegani, seperti kakak, saudara sepupu, kakak kelas, yang memilki hubungan dekat.
d)     Basa krama lugu / basa krama alus
Digunakan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, murid kepada guru, bawahan kepada atasan, priyayi kepada priyayi lainnya, teman sebaya yang belum saling kenal.
e)      Basa madya
Digunakan oleh antarsesama yang memiliki hubungan yang sangat dekat dan orang yang seprofesi, antarpenjual misalnya.
f)       Basa krama inggil
Digunakan oleh anak kepada orang tua, siswa kepada guru.


g)      Basa kedhaton
Digunakan di kalangan keraton oleh antarpara sentana abdi dalem ratu.
Selain mengenai kesulitan dalam mempelajari bahasa Jawa yang sesuai dengan unggah-ungguh basa, permasalahan lain yang dihadapi adalah minimnya minat serta pengetahuan generasi muda dalam memberdayakan bahasa Jawa. Sebenarnya, sejak kecil bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa, namun bukan bahasa Jawa yang seharusnya digunakan oleh seorang anak untuk berbicara kepada guru atau orang tuanya. Sejak kecil mereka tidak dibiasakan untuk basa kepada orang yang lebih tua, sehingga saat menginjak usia remaja, mereka kurang mengerti sopan santun dan penerapan unggah-ungguhing basa dalam bahasa Jawa. Padahal jika dipraktikkan sejak kecil, selain memiliki sopan santun, bahasa Jawa juga dapat membantu memperhalus budi pekerti generasi muda.
Hal lain yang membuat kurangnya kemampuan generasi muda berbahasa Jawa adalah minimnya pemberdayaan bahasa Jawa dari pihak menteri pendidikan. Khususnya mengenai aturan penetapan mata pelajaran bahasa Jawa di tingkat Sekolah Dasar (SD). Bahasa Jawa yang seharusnya dijadikan muatan lokal ini malah seakan-akan tersingkirkan. Ini terbukti karena banyak Sekolah Dasar yang muatan lokalnya disisipi dengan pelajaran bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Dari para pendidik dan pelajarnya sendiri mungkin merasa mampu dan fasih karena sudah terbiasa berbahasa Jawa sehingga mengutamakan bahasa asing untuk dipelajari lebih mendalam.
Seharusnya sebelum mempelajari bahasa asing, para peserta didik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar terlebih dahulu mempelajari dan memahami bahasa daerah mereka sendiri khususnya bahasa Jawa. Warga manca negara justru banyak yang tertarik untuk mempelajari bahasa Jawa, dimulai dari bahasa Jawanya, sendra tari, kesenian wayang serta ilmu pendalangan, dan karawitan. Hal tersebut membuktikan bahwa mereka menghargai kebudayaan Indonesia, sedangkan generasi muda Indonesia sendiri justru larut dalam bahasa ala western tanpa menjunjung tinggi bahasa lokal.
Meskipun semangat generasi muda untuk mempelajari dan mendalami bahasa Jawa sudah mulai pudar, namun sesungguhnya masih dapat dijumpai beberapa sarana pemberdayaan bahasa Jawa selain pelajaran di sekolah, yakni kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh suatu perkumpulan budaya yang disebut PERMADANI. Permadani adalah suatu organisasi budaya yang dibentuk dengan landasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta bersifat non-politik dan non-komersial.
Proses pembelajaran, yang dalam bahasa Jawa disebut pawiyatan, pembelajaran di Permadani tidak seperti di sekolah formal. Kegiatan dan pelatihannya khusus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan bahasa Jawa, seperti panatacara, pamedhar sabda, lomba macapat, lomba medhar sabda, lomba menulis dan membaca huruf Jawa, karawitan, geguritan, macapat, dan berbagai kegiatan kebahasaan lainnya.
Sebagai dasar revitalisasi penggunaan bahasa Jawa yang taat pada kaidah, maka pihak yang menyampaikan sosialisasi harus cakap. Bukan hanya sekedar cakap dalam berbahasa Jawa yang taat kaidah, namun juga cakap membimbing para generasi muda sehingga pada akhirnya para generasi muda juga dapat cakap menggunakan bahasa Jawa taat kaidah baik lisan maupun tulisan.
Apabila sudah dilandasi dengan kecakapan, kemudian diperlukan inovasi untuk menarik minat geberasi muda agar kembali melirik dan mau mengenal lebih dalam hal-hal yang berkaitan dengan bahasa Jawa. Karena saat ini generasi muda senang menggunakan situs jejaring sosial, maka proses penarikan minat generasi muda juga dapat dilakukan melalui situs jejaring sosial. Inovasi lain yang dapat diterapkan adalah menggandeng suatu produk untuk memproduksikan bahasa Jawa. Sebagai contoh, mengadakan kerjasama dengan produsen penghasil permen lokal. Jika sebelumnya sudah ada permen yang bungkusnya berisi kata-kata mutiara, mengapa tidak jika bungkus permen itu diberi tata aturan atau unggah-ungguh bahasa Jawa. Tentu cara ini lebih efektif daripada dengan sosialisasi dalam bentuk seminar yang terkesan membosankan bagi generasi muda.

MEMAKNAI BAHASA JAWA SEBAGAI PEMBANGUN KARAKTER BANGSA
Dalam rangka pembangunan karakter bangsa ada pertanyaan menarik yang perlu diajukan: Adakah sumbangan Jawa untuk pembangunan karakter bangsa? Adakah nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa Jawa, sastra dan budaya Jawa yang dapat membangun karakter bangsa?
Nah, tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa jauh warganya bertindak sesuai dengan norma dan etika yang telah disepakati bersama. Sementara itu masing-masing unsur bangsa yaitu etnis, memiliki sub budaya bangsa yang berkembang ditengah-tengah kehidupan mereka. Bagi masyarakat Jawa, etika biasa disebut dengan pepali, unggah-ungguh, suba sita, tata krama, tata susila, sopan santun, budi pekerti, wulang wuruk, pranatan, pituduh, pitutur, wejangan, wulangan, wursita, wewarah, wedharan, duga prayoga, wewaler, dan pitungkas. Orang Jawa yang hidupnya berhasil jika mendapat empan papan, kalau dapat menempatkan diri dalam unggah-ungguhing basa, kasar alusing rasa, dan jugar genturing tapa.
Kultur Jawa itu memang unik karena semua aturan main yang mengandung norma dan etika itu diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, melalui proses pembudayaan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat secara terus-menerus dengan berbagai cara. Mulai dari pemberian pengetahuan, pemahaman, praktik langsung, keteladanan, sampai dengan penyampaian melalui bahasa simbolik. Pengawasan itu dilakukan secara ketat oleh orang-orang yang disegani dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Apabila ada yang melanggar norma maka orang yang berperan sebagai pengawas cukup memberikan opini terhadap pelanggar. Karena pengaruh mereka cukup besar di lingkngan masyarakat, maka opini dari orang-orang yang disegani tersebut akan menjadi opini umum dan akhirnya menjadi sangsi moral terhadap si pelanggar norma tadi.
Dalam budaya Jawa, sebenarnya banyak sekali filsafat tingkat tinggi yang tersirat didalamnya. Kita sering tidak tahu dan tidak mau mempelajarinya. Kita hanya mengekor dengan mengaku ingin melestarikan, padahal kita sama sekali tidak tahu maksudnya. Contoh: pada adat upacara pengantin Jawa. Pada hiasan rumah harus ada pohon pisang raja, tebu, cengkir (kelapa gading muda), padi, daun beringin, dan janur. Itu semua memiliki makna bukan sekedar pajangan untuk hajatan. Makna simbolis tersebut kurang lebih sebagai berikut:
·         Tebu (antebing kalbu), ini adalah simbol sikap kemantapan atau keteguhan hati kedua mempelai yang satu sama lain merupakan jodoh.
·         Cengkir (kencenging pikir), ini menunjukkan pada suatu ola pemeikiran yang telah mantap, bahwa laki-laki dan perempuan memang jodohnya.
·         Padi, tumbuhan ini merupakan lambang kehidupan pokok masyarakat Jawa, yang sebagian besar hidupnya adalah bertani. Selain itu tumbuhan padi ini dalam kepercayaan Jawa berhubungan dengan Dewi Sri, yang dianggap sebagai dewi rumah tangga atau dewi kesuburan. Melalui lambang ini, orang tua mengharapkan kebahagiaan kepada kedua mempelai.
·         Pisang raja, jenis pisang ini memiliki nilai tertinggi di antara jenis pisang lainnya. Simbol ini menggambarkan pengantin laki-laki yang akan bertemu dengan pengantin wanita, yang menggambarkan pertemuan. Terkadang dilengkapi juga dengan jenis pisang lain, yaitu urutannya: pisang raja, pisang saba, pisang kluthuk, dan pisang emas (pengantin wanita). Lantas, muncullah istilah raja saba kepethuk emas
·         Daun beringin, jenis ini melambangkan keluarga yang dibentuk suami isri diharapkan dapat memberikan pengayoman pada kerabat yang membutuhkan. Sekaligus merupakan peringatan bahwa pada dasarnya mereka itu tidak hidup sendiri dan mereka adalah bagian dari suatu kelompok.
·         Janur, melambangkan ajaran orang tua terhadap kedua mempelai bahwa apabila suatu ketika terjadi suasana yang kurang baik dalam rumah tangga mereka, hendaknya jangan sampai orang diluar keluarganya mengetahuinya.
Orang Jawa tulen masih mengindahkan pajangan rumah bagi yang sedang berhajat seperti di atas. Jika anak cucu mereka ada yang melanggar, orang tua pasti akan berkata, “Ora ilok, Le! Ora ilok, nduk!”. Sebenarnya, ada baiknya juga kegiatan tersebut diikuti. Tetapi karena generasi muda kurang mengerti maknanya, maka ada kecenderunagn mengabaikannya. Mereka malah berkata, “Ngapain pakai janur dan pohon tebu segala? Itu tidak indah! Ganti saja dengan lampion atau pita warna-warni!”
1.      Ora Ilok/ Ora Elok
Kata-kata ora ilok/ ora elok sangat kental dengan nasihat orang tua kepada anaknya atau yang lebih muda. Kata-kata itu sering terucap dari orang-orang tua jika kita melakukan sesuatau yang mereka anggap tidak pantas, misalnya: makan di depan pintu, menyapu di malam hari, potong kuku di malam hari, tidur di depan pintu, anak kecil tidak boleh keluar setelah jam enam sore, dan lain-lain.
Pada dasarnya orang terdahulu mempunyai alasan yang masuk akal yang tidak bisa dinyatakan secara blak-blakkan. Tetapi mereka tidak mau memberitahu alasan tersebut karena tidak mau dibantah dan mereka ingin agar anak mereka menurut untuk tidak melakuakn hal tersebut.
2.      Budi Pekerti
Secara umum budi pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan. Ini adalah tuntutan moral yang paling penting untuk orang Jawa tradisional. Budi pekerti adalah induk dari segala etika, tata krama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti dikenalkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas secara langsung maupun tidak langsung.
Dari pandangan tradisional, budipekerti mulai ditanamkan sejak masa kanak-kanak, baik dirumah maupun disekolah, kemudian berlanjut dalam kehidupan masyarakat. Berperilaku yang baik dalam keluarga amat penting bagi pertumbuhan sikap anak selanjutnya. Dari kecil sudah terbiasa hormat kepada orang tua, misalnya: jalan sedikit membungkuk jika berjalan di depan orang yang lebih tua dan soapan mengucapkan: nuwun sewu (permisi), nderek langkung (perkenankanlah lewat sini).
3.      Bahasa Kromo dan Ngoko
Berperilaku halus dengan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, baik menggunakan bahasa halus (kromo) maupun bahasa biasa (ngoko). Tingkatan bahasa Jawa sebenarnya tidak sulit, karena unggah-ungguh basa (penggunaan bahasa menurut tingkatannya) adalah sopan santun untuk menghormati orang lain.
     Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahas Jawa, yaitu kromo, bahasa halus dan ngoko, bahasa biasa. Bahasa kromo digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua sedangkan basa ngoko digunakan untuk teman sebaya. Semua bahasa yang dipakai dalam dua tingkat bahasa itu berbeda, contoh:
                 Bahasa Indonesia        : Saya mau pergi
                 Kromo                         : Kulo bade kesah
                 Ngoko                         : Aku arep lunga
     Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai bahasa ngoko, anak kepada orang tua memakai bahasa kromo. Dalam pergaulan biasanya terdapat campuran antara kromo dan ngoko dan ini mudah dipraktekkan tapi sulit untuk dinyatakan dalam teori. Orang yang menggunakan bahasa kromo biasanya tidak mungkin berkata kasar, apalagi marah. Karena sulit mengekspresikan amarah jika menggunakan bahasa kromo.

PENUTUPAN
Revitalisasi penggunaan bahasa Jawa diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap bahasa Jawa sebagai bahasa daerah. Apabila sudah mencintai dan merasa memiliki bahasa Jawa sebagai bahasa Ibu masyarakat Jawa, maka dengan sendirinya akan timbul semangat nasionalisme pada diri generasi muda.

DAFTAR PUSTAKA
Sutrisno, Rendy. 2008. Makalah Pengaruh Globalisasi terhadap Eksistensi Kebudayaan Daerah. Rendhi.wordpress.com, 13 Desember 2011
Dinasti, Fistya Evi. 2011. Landasan CINTA sebagai Benteng Penampik Pergeseran Bahasa dalam Upaya Mempertahankan Budaya. Blog.unnes.ac.id, 25 Desember 2011

2 komentar:

  1. Catatannya bagus. Bahasa itu salah satu budaya. Dan mempelajari budaya Jawa itu bukanlah hanya untuk menjaganya dari kepunahan, melainkan juga untuk mendapatkan jatidiri kita sebagai orang Jawa.

    BalasHapus
  2. makasih. iya.. yah, udah aku kumpulin tugasnya..

    BalasHapus